Jakarta, 12 Mei 2009
Pada suatu malam…
Cerita ini terinspirasi dr Novel Angel & Demons (Dan Brown), Film Malena, Cantik itu Luka (Eka Kurniawan)
Pada suatu masa, di sebuah negeri khayalan, berdirilah sebuah kota megah. Kota perdagangan yang ramai.
Seperti layaknya sebuah negeri, dimana selalu ada strata sosial. Para pemuka agama dan penasehat spiritual menduduki strata tertinggi. Dibawahnya ada para bangsawan dan hartawan. Para pekerja, petani, dan pedagang berada di tingkat lebih rendah. Yang terakhir adalah para budak, pelacur, dan sampah masyarakat lainnya.
Di kota ini tinggal seorang pelacur yang luar biasa cantik. Tidak seperti kebanyakan pelacur yang bertampang ranjang, ia punya sesuatu yang bisa disebut keagungan. Badannya tinggi semampai, lebih tinggi daripada rata-rata perempuan seusianya. Kulitnya putih bersih seperti pualam, rambutnya panjang ikal sebatas pinggang dan berwarna gelap, wajahnya tirus, mata lebar berwarna hijau dihiasi dengan bulu mata tebal dan lentik, hidungnya mancung, bibirnya penuh sensual selalu terhias senyum mengejek dan menantang.
Ia punya daya tarik kuat. Kehadirannya adalah magnet bagi lawan jenisnya. Sekali melihatnya, takkan mampu lagi untuk berpaling. Ia adalah pelacur paling mahal dikota itu. Jika ada bangsawan atau pangeran dari kota raja datang, ialah yang akan disewa untuk menghibur. Ia pandai memijat, memasak, bermain musik dan menari. Ia didamba, dihina, sekaligus dipuja….
Keelokan wajahnya itu tak luput membawanya dalam bencana. Semua wanita membencinya, mengirikannya. Ia adalah ancaman bagi kaumnya. Setiap hari mereka harap-harap cemas dirumah menantikan suaminya pulang ke rumah. Menelan sakit hati, menulikan telinga, dan berpura-pura tak peduli jika sang suami tak kunjung tiba. Mereka akan membohongi diri sendiri, bahwa si suami sedang sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun nurani tak bisa mendusta, mereka tau sang suami sedang berada dipelukan sang pelacur.
Si pelacur itu hidup sebatang kara, ibunya juga mantan pelacur yang meninggal karena wabah penyakit tak terobati. Ada banyak yang menduga, ayahnya adalah salah seorang pangeran pelanggan ibunya, karena itu dia mewarisi wajah ningrat ayahnya.
Dari kecil Ia sudah belajar tentang kepahitan hidup. Ibunya membencinya, karena mata hijaunya mengingatkannya pada lelaki yang dicintainya, dan sekaligus mencampakkannya. Dari kecil Ia sudah kelihatan akan menjadi wanita yang cantik luar biasa. Tapi dia selalu sendirian…
Tak pernah punya teman bermain, karena semua orang tua melarang anaknya bermain dengannya, anak seorang pelacur. Ia tak pernah mendapatkan pendidikan apapun. ibunya tak pernah memperdulikannya. Pada umur 15 tahun, Ia sudah mendapatkan kesempurnaan lekuk tubuhnya. Saat itu, ibunya menjualnya ke rumah pelacuran dengan harga tinggi.
Setahun kemudian ibunya meninggal. Ia diijinkan untuk tidak bekerja selama tiga hari untuk mengurus pemakamannya. Ia tak menangis, karena jauh sebelum ibunya mati, ia sudah kehilangan sejak ia dilahirkan. Sepi, adalah temannya…..
Mungkin karena darah ningratnya itu, maka ia gampang mempelajari macam-macam pelajaran. Bermain musik, membaca, menulis, menari. Ia cerdas, ia cantik, dan kesepian.
Pada waktu luangnya, ia pergi ke biara diam-diam, memakai kerudungnya hingga menutupi muka. Menyumbangkan apa yang bisa disisihkan, dan meminta pendeta yang ada merahasiakan pemberiannya. Ia malu karena menyumbangkan uang haram. Dan berharap Tuhan mengampuni dosanya.
Seperti juga pada kehidupan nyata, begitulah adanya negeri ini. Yang kaya semakin kikir, serakah dan makin kaya. Yang miskin makin miskin dan sengsara.
Sementara para bangsawan dan hartawan berpesta pora, makan dan minum mewah melimpah ruah, si gelandangan kedinginan dan tak bisa makan.
Seperti layaknya pesta para bangsawan, ada banyak pergunjingan disana. Si tuan memperkosa budaknya hingga hamil, ketika ketahuan oleh istrinya si budak ditembak mati. Sang nyonya besar yang anggun berselingkuh dengan kolega suaminya atau tukang kebunnya atau tukang keretanya.
Mereka yang dengan angkuh mengangkat dagu mereka, seolah-olah mereka layak bermahkota kehormatan. Sementara para suami yang tak meledak-ledak libidonya, meluapkan energi mereka dengan memupuk uang darah. Dan para istri yang tak mau berselingkuh dengan alasan norma dan kehormatan, setiap hari bergunjing pada setiap pertemuan menyulam yang diadakan secara rutin.
Pada musim dingin….
Si kaya terlelap di peraduan dari bulu angsa, dengan tungku yang membara, dan selimut hangat. Tidur pulas dengan perut gendut kekenyangan sehabis pesta pora.
Si miskin kedinginan, tak bisa tidur, dengan perut melilit karena belum makan beberapa hari. Beberapa ditemukan mati keesokan harinya. Karena tak tahan dengan dingin atau karena kelaparan.
Dan ia si pelacur cantik menampung mereka di rumah reyot peninggalan ibunya. Menyediakan makanan ala kadarnya dari uang yang didapatnya dari menjual tubuhnya. Seandainya dia mau menabung dan tak membuangnya dengan membantu para gelandangan dan peminta-minta itu mungkin ia telah mampu menebus kebebasannya dari rumah pelacuran tempat ia bekerja.
Pernah ia menolong seorang pembunuh melarikan diri, menyembunyikannya, dan memberinya bekal uang sekedarnya dan kuda yang sehat. Si pembunuh takkan pernah lupa akan jasanya. Berkali-kali dia menawarkan uang untuk menebusnya, tapi si pelacur menolaknya. Katanya,”Aku membantumu karena aku tahu kamu tidak bersalah, dan aku tidak mau menodai bantuanku dengan pamrih.”
Si pembunuh menyerah, tetapi mengawasinya dari jauh. Sekarang ia menjadi hartawan kaya di negeri tetangga. Ia membunuh bangsawan yang merampas harta orang-tuanya dan menculik adik perempuannya untuk dijadikan gundik bangsawan itu.
Pada suatu ketika, kota itu terserang wabah penyakit yang mengganas, setiap hari bertambah korban meninggal. Semua orang gelisah. Para tabib didatangkan, tapi tak satupun yang sanggup menangani wabah yang menghebat itu.
Kemudian para biarawan bersatu berkumpul dan menyatakan kepada dewan kota, bahwa kota mereka telah dikutuk. Ada pendosa yang menyebabkan kota itu dikutuk.
Mereka saling tuding, saling serang, saling tuduh siapa yang menyebabkan kutukan. Akhirnya mereka menemukan dua musuh bersama SANG PELACUR dan SANG PEMBUNUH.
Karena sang pembunuh sudah tak berada di kota itu, satu-satunya yang mungkin adalah si pelacur. Dengan brutal mereka menyerbu rumah pelacuran. Para pelacur dan pemilik pelacuran sudah melarikan diri. Apaka semuanya?
Tidak, ada yang tinggal… Dan ialah yang tercantik.
Ia diseret di tengah kota, ditampar, dipukul, ditendang, tubuhnya luka-luka. Tapi tetap…tak mampu menghilangkan kecantikannya.
Para wanita terhormat seolah-olah menemukan penyaluran atas kebencian kepadanya. Dan para pria, yang dulu merayu dan memujanya, tak satupun mau mendekati dan mengulurkan tangan membantunya.
Ia disiksa, ditelanjangi, dan disalib di tengah kota. Sebentar lagi upacara pembakaran hidup-hidup untuknya. Tak satupun kata-kata keluhan keluar dari mulutnya. Darah kering disekujur tubuhnya. Memar-memar pada kulitnya. Ia memandang kemata setiap penyiksanya, seolah mencatat apa yang mereka lakukan. Dan itu membuatnya semakin dibenci.
“Bunuh…bunuh…bunuh…”
Hiruk pikuk suara manusia menginginkannya mati. Seorang anak gelandangan kecil yang pernah ditolongnya, melihatnya, wanita itu menoleh kepadanya. Ia tersenyum, si gelandangan kecil itupun melelehkan air mata. Untuk pertama kalinya, si wanita tak lagi merasa sendiri di dunia.
Para gelandangan berjejer diluar, menyaksikan dewi penolong mereka disiksa. Para warga kota terhormat tak henti-hentinya menghinanya.
Para tetua memakai jubah kuning, tanda keputusan penting akan segera dilakukan. Formalitas, pembacaan dakwaan terhadap sang pendosa. Sanggahan yang tidak diperlukan. Terakhir pelaksanaan hukuman.
Sang ketua membuka kata,”Baiklah warga kotaku, sebelum kita laksanakan hukuman, siapa yang mempunyai tuntutan atau dakwaan terhadap terdakwa?”
“Apa kesalahannya?”
“Ia pendosa, ia pelacur…”
“Ia pantas dihukum, ia membuat kotor kota ini…”
Sang ketua melirik ke arah pelacur itu. “Apa sanggahanmu?”
Pelacur itu tersenyum mengejek, kemudian dengan tenang kalimat demi kalimat mengalir lancar dari mulutnya.
“Aku pendosa, iya.”
“Aku pelacur, benar.”
“Aku penjinah, tak akan kusangkal…”
“Pertanyaanku adalah, siapa di antara kalian semua yang tidak pernah melakukan dosa dalam satu hari?”
“Apakah kalian tidak pernah berpikir jelek terhadapku?”
“Apakah kalian menyangkal bahwa setiap hari bergunjing tentang tetanggamu?”
“Menginginkan kereta baru kolegamu?”
“Menginginkan gundiknya?”
“Menghina kami, kaum miskin?”
“Iri kepada temanmu, karena ia lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya?”
“Merampok uang kami?”
“Merampas kebebasan kami para budak?”
“Memfitnah?”
“Aku pelacur, iya…. Dari kecil aku tidak pernah diberi pilihan, tidak satupun dari kalian menolongku keluar dari sana, meskipun kalian mampu. Tidak, karena aku tidak pernah dianggap layak oleh kalian, karena aku anak seorang pelacur juga, aku anak haram. Aku tidak pernah diajari hidup dengan cara lain.”
“Kalian adalah orang-orang munafik yang sok berTuhan, menyumbang dalam jumlah besar ke biara dari duit yang kalian rampas dari keringat dan darah kami.”
“Aku penjinah iya, dan akan kubukakan rahasia ini kepada kalian semua, semua lelaki di kota ini pernah meniduriku. Jika aku penjinah, kalianpun penjinah. Aku menjual, kalian memberi. Aku menawarkan, kalian meminta.”
“Dan jangan kau kira para nyonya besar yang terhormat, aku tahu kenapa kalian membenciku. Kalian iri kepadaku…. Aku adalah ancaman bagi rumah tangga kalian… Dan jangan berpikir kami tak tahu, kalian berselingkuh dengan kolega suami kalian, atau dengan budak kalian, kalian dan aku sama-sama penjinah.”
“Jangan berpikir aku akan minta ampun kepada kalian, hanya Tuhan yang layak menentukan dosaku. Mungkin dengan mati, itu adalah akhir dari kesendirianku…”
“Lakukan hukumanmu, lanjutkan dakwaanmu yang masih tersimpan…”
Semua orang terdiam, tertunduk, malu, mereka ditelanjangi. Kehormatan mereka dihancurkan oleh belati di ujung lidah si pelacur cantik.
Tapi itu hanya sejenak, mereka makin murka, wajah-wajah itu berubah menjadi wajah iblis. Seorang istri bangsawan yang sangat membenci pelacur itu, karena suaminya jatuh cinta pada si pelacur, berteriak,”Hukum dia, jangan biarkan dia menghancurkan kehormatan kita…”
Pelacur itu mendongakkan kepala dan tertawa….
“Nyonya, kau seperti badut. Kehormatan apa yang kau punya? Siapa yang tidak tahu, kalau suamimu berkali-kali membujukku meninggalkan rumah pelacuran itu dan menjanjikan kedudukanmu kepadaku?”
“Sekarang aku tahu kenapa suamimu tak betah bersamamu… Kau perempuan nyinyir, berhati ular, pura-pura terhormat, tapi hatimu penuh racun. Kau membenci semua perempuan didekatmu, bahkan adik perempuanmu sendiripun kau cemburui.”
“Kau perempuan setan, sebentar lagi kau akan mati…,” teriak nyonya itu marah.
Dan semua berteriak, “Hukum… hukum…hukum…”
Sang ketua mengangkat tangannya. Meminta semua orang tenang. Katanya, “Sebelum dilaksanakan hukumanmu, apa permintaan terakhirmu?”
“Jika diantara kalian ada yang tidak pernah melanggar 10 perintah Tuhan seperti ini:
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
Jangan membuat bagimu patung atau sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.
Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
Hormatilah ayahmu dan ibumu.
Jangan membunuh.
Jangan berzinah.
Jangan mencuri.
Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.
Aku minta dialah yang pertama kali menyalakan apinya. Tapi jika tidak ada, aku minta hukuman bakar ganti dengan pancung.”
Pada akhirnya, si pelacur dihukum pancung. Karena tak ada satupun orang yang tidak pernah melanggar 10 perintah Tuhan.
Pelacur itu mati dengan senyum dibibirnya. Dia bahagia menemukan ada orang yang merasa kehilangannya. Si gelandangan kecil, dengan matanya yang tulus, menyayanginya, membuatnya tidak lagi sendirian di dunia. Kematian mengakhiri kepahitan hidupnya.
-selesai-
Saat hening, kadang aku berpikir, bahwa Malaikat dan Iblis itu ada didiri kita masing-masing. Kita semua punya dua sisi, Malaikat dan Iblis.