Feed on
Posts
comments

Sang Pemburu

Jakarta, 16 Juni 2009

Mudah-mudahan tulisan gw yang ini bisa selesai….

Perempuan itu tidur telanjang dalam posisi vetus… Rambutnya yang panjang terurai lepas dan kusut, membingkai wajahnya yang cantik dan pucat. Nafas halus panjang. Ia gelisah dalam tidurnya. Bibirnya bergerak-gerak mengigau perlahan. Tubuhnya mengejang.

*****

“Teng…teng …teng,” lonceng gereja berbunyi nyaring.

Misa sore.

Bunyi yang teratur, pada jam yang teratur.

Matahari tenggelam di arah barat, senja mulai menggelap. Iblis menggeliat bangun dari tidurnya, bahaya mengintipnya.

Dan, siksaan itu akan datang lagi, lagi, dan lagi…..

Aih, ingin dia bisa pergi….

“Tuhan, tolong hentikan waktu….,” bisiknya lirih. Bibirnya memucat.

Rutinitas mengerikan itu akan berulang lagi.

Anak perempuan ini berumur 11 tahun, yatim piatu, ia tinggal di panti asuhan dekat gereja di kota itu, ibunya pelacur yang meninggal karena AIDS, beruntung ia karena ibunya terinfeksi AIDS setelah umurnya dua tahun.

Ibunya adalah pelacur cantik, wajahnya eksotik, dengan tubuh penuh lekuk liku wanita sejati, tonjolan-tonjolan yang tepat pada tempatnya, pantat dan dada yang membusung, pinggangnya ramping, berkulit coklat halus, dan berambut panjang lurus mencapai pinggang, matanya agak sipit tapi dengan ujung naik keatas seperti mata kucing, bibirnya tebal sensual.

Wanita lokal dengan bentuk fisik idaman pria kulit putih. Ia dipuja…

Dan ia mewarisi semua keelokan ibu dan ayahnya, perempuan cilik yang elok rupawan. Dia seperti malaikat-malaikat kecil dalam dongeng. Perpaduan unik dari dua benua yang berbeda, dan ia mewarisi keelokan keduanya.

Matanya berwarna kelabu, rambutnya ikal kecoklatan, hidungnya mancung, badannya jangkung, ekspresinya dingin seperti batu, warisan ayahnya.

Kulitnya halus, putih kemerahan, perpaduan antara darah asia dan eropa.

Bibirnya tebal sensual, daya tarik seksual yang kuat meski masih berumur 11 tahun, dan itu adalah warisan ibunya.

Tapi kecantikannya adalah kutukan. Kecantikannya mendatangkan mala petaka.

Setiap malam, setelah semua anak panti berada di biliknya masing-masing, iblis itu akan datang kepadanya.

Ia menempati biliknya sendirian, biliknya yang sempit dan pengap. Sudah dua tahun ia menempati sendirian. Pada mulanya ia senang karena mendapatkan biliknya sendiri. Tapi setelah semuanya ini, dia akan bahagia mendapat teman sekamar. Tapi si iblis menempatkannya sendirian di bilik itu.

Anak perempuan itu mulai menghitung waktu, ia pandangi jam usang yang tergantung di dinding, menghitung setiap detiknya. Butir demi butir keringat dingin mulai berjatuhan di keningnya.

Tidak, ia tak mau disiksa lagi. Tidak malam ini, atau pun malam-malam selanjutnya. Cukup, sudah cukup siksaan itu.

Iblis itu akan mendapat kejutan.

Otot-ototnya mengejang waspada.

Tengah malam…..

Suara alas kaki mendekati kamarnya, bunyi yang sangat ia kenal. Alarm di kepalanya berdentang-dentang.

Sesosok tubuh lelaki dewasa masuk, agak kurus, ia menyeringai menyeramkan, seperti wujud iblis itu sendiri. Dia mendekatinya.

Tubuh bocah perempuan itu menegang.

Satu….

Dua….

Tiga…

Lolongan kesakitan membelah malam.

Lalu…, gelap….

*****

Perempuan itu terbangun dari tidurnya, nafasnya tersengal-sengal, terseok-seok ia hampiri meja kecil di sudut kamar, diambilnya air putih, diteguknya perlahan-lahan untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.

Ia melirik ke arah jam dinding, sungguh ia benci jam dinding, masih pukul 2 dini hari. Beberapa hari ini ia tak bisa tidur pulas. Ia selalu dihantui mimpi buruk.

Ia melangkah ke toilet, mencuci mukanya, ia mengamati wajahnya di kaca toilet, dan terperangah.

Berapa lama ia tak melihat cermin? Hampir saja ia tak mengenali wajahnya sendiri. Wajahnya seperti kuntilanak, terlalu tirus dan pucat. Lingkaran hitam di seputar matanya karena tak bisa tidur nyenyak.

“Tidak, pasti cermin ini menipuku, itu bukan aku,” batinnya kecut.

Sekarang ia telah benar-benar bangun.

Sunyi…

“Sebaiknya aku yoga, sepertinya sudah seabad tak melakukannya,” pikirnya.

Ia memusatkan pikiran. Nafasnya makin tenang, makin khusyuk.

*****

Si pemburu ada di depan laptopnya melakukan sejumlah transaksi. Ia memindahkan sebagian rekeningnya. Setiap hari ia melakukannya.

“Mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa,” seringainya puas.

“Selesai…., aku harus melakukan sesuatu, bajingan itu memburuku…. Tapi aku akan lolos, mereka menunggu kejutan, akan kuberikan,” pikirnya senang.

“Baiklah, cara yang terbaik apa? Harus kutemukan itu, sebelum mereka membunuhku,” dia berbicara sendirian.

Wajahnya membatu, tanpa ekspresi. Satu-satunya ekspresi yang kelihatan hanyalah dari kepulan asap rokok tebalnya. Asbaknya mulai penuh.

“Akan kutinggalkan, aku harus mengganti wajahku.”

Di sebuah motel kumuh ia menyusun rencana. Bukan saatnya bermewah-mewah. Malam ini pun dia harus meninggalkan tempat ini segera. Mungkin lebih baik ke rumah penduduk.

Otaknya terang, susunan puzzle sudah sempurna, kepingan-kepingannya jatuh pada tempatnya.

Dia mengepak barang-barangnya. Dia hanya membawa seperlunya. Untuk perjalanan cepat, dia bisa sangat praktis. Dia perfectionist, tidak suka partner, dia selalu bekerja sendirian.

Tubuhnya langsing sempurna, tubuhnya atletis, tanpa lemak di perutnya, terlatih di gym. Matanya coklat cerdas, ekspresi wajahnya dingin. Dia terlatih menggunakan senjata api dan senjata tajam. Favoritnya samurai, pedang tipis panjang melengkung dan sangat tajam itu pas ditangannya.

Dialah sang pemburu…

*****

bersambung

Malaikat dan Iblis

Jakarta, 12 Mei 2009
Pada suatu malam…

Cerita ini terinspirasi dr Novel Angel & Demons (Dan Brown), Film Malena, Cantik itu Luka (Eka Kurniawan)
Pada suatu masa, di sebuah negeri khayalan, berdirilah sebuah kota megah. Kota perdagangan yang ramai. 

Seperti layaknya sebuah negeri, dimana selalu ada strata sosial. Para pemuka agama dan penasehat spiritual menduduki strata tertinggi. Dibawahnya ada para bangsawan dan hartawan. Para pekerja, petani, dan pedagang berada di tingkat lebih rendah. Yang terakhir adalah para budak, pelacur, dan sampah masyarakat lainnya.

Di kota ini tinggal seorang pelacur yang luar biasa cantik. Tidak seperti kebanyakan pelacur yang bertampang ranjang, ia punya sesuatu yang bisa disebut keagungan. Badannya tinggi semampai, lebih tinggi daripada rata-rata perempuan seusianya. Kulitnya putih bersih seperti pualam, rambutnya panjang ikal sebatas pinggang dan berwarna gelap, wajahnya tirus, mata lebar berwarna hijau dihiasi dengan bulu mata tebal dan lentik, hidungnya mancung, bibirnya penuh sensual selalu terhias senyum mengejek dan menantang.

Ia punya daya tarik kuat. Kehadirannya adalah magnet bagi lawan jenisnya. Sekali melihatnya, takkan mampu lagi untuk berpaling. Ia adalah pelacur paling mahal dikota itu. Jika ada bangsawan atau pangeran dari kota raja datang, ialah yang akan disewa untuk menghibur. Ia pandai memijat, memasak, bermain musik dan menari. Ia didamba, dihina, sekaligus dipuja….

Keelokan wajahnya itu tak luput membawanya dalam bencana. Semua wanita membencinya, mengirikannya. Ia adalah ancaman bagi kaumnya. Setiap hari mereka harap-harap cemas dirumah menantikan suaminya pulang ke rumah. Menelan sakit hati, menulikan telinga, dan berpura-pura tak peduli jika sang suami tak kunjung tiba. Mereka akan membohongi diri sendiri, bahwa si suami sedang sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun nurani tak bisa mendusta, mereka tau sang suami sedang berada dipelukan sang pelacur.

Si pelacur itu hidup sebatang kara, ibunya juga mantan pelacur yang meninggal karena wabah penyakit tak terobati. Ada banyak yang menduga, ayahnya adalah salah seorang pangeran pelanggan ibunya, karena itu dia mewarisi wajah ningrat ayahnya.

Dari kecil Ia sudah belajar tentang kepahitan hidup. Ibunya membencinya, karena mata hijaunya mengingatkannya pada lelaki yang dicintainya, dan sekaligus mencampakkannya. Dari kecil Ia sudah kelihatan akan menjadi wanita yang cantik luar biasa. Tapi dia selalu sendirian…

Tak pernah punya teman bermain, karena semua orang tua melarang anaknya bermain dengannya, anak seorang pelacur. Ia tak pernah mendapatkan pendidikan apapun. ibunya tak pernah memperdulikannya. Pada umur 15 tahun, Ia sudah mendapatkan kesempurnaan lekuk tubuhnya. Saat itu, ibunya menjualnya ke rumah pelacuran dengan harga tinggi.

Setahun kemudian ibunya meninggal. Ia diijinkan untuk tidak bekerja selama tiga hari untuk mengurus pemakamannya. Ia tak menangis, karena jauh sebelum ibunya mati, ia sudah kehilangan sejak ia dilahirkan. Sepi, adalah temannya…..

Mungkin karena darah ningratnya itu, maka ia gampang mempelajari macam-macam pelajaran. Bermain musik, membaca, menulis, menari. Ia cerdas, ia cantik, dan kesepian.

Pada waktu luangnya, ia pergi ke biara diam-diam, memakai kerudungnya hingga menutupi muka. Menyumbangkan apa yang bisa disisihkan, dan meminta pendeta yang ada merahasiakan pemberiannya. Ia malu karena menyumbangkan uang haram. Dan berharap Tuhan mengampuni dosanya.

Seperti juga pada kehidupan nyata, begitulah adanya negeri ini. Yang kaya semakin kikir, serakah dan makin kaya. Yang miskin makin miskin dan sengsara.

Sementara para bangsawan dan hartawan berpesta pora, makan dan minum mewah melimpah ruah, si gelandangan kedinginan dan tak bisa makan.

Seperti layaknya pesta para bangsawan, ada banyak pergunjingan disana. Si tuan memperkosa budaknya hingga hamil, ketika ketahuan oleh istrinya si budak ditembak mati. Sang nyonya besar yang anggun berselingkuh dengan kolega suaminya atau tukang kebunnya atau tukang keretanya.

Mereka yang dengan angkuh mengangkat dagu mereka, seolah-olah mereka layak bermahkota kehormatan. Sementara para suami yang tak meledak-ledak libidonya, meluapkan energi mereka dengan memupuk uang darah. Dan para istri yang tak mau berselingkuh dengan alasan norma dan kehormatan, setiap hari bergunjing pada setiap pertemuan menyulam yang diadakan secara rutin.

Pada musim dingin….

Si kaya terlelap di peraduan dari bulu angsa, dengan tungku yang membara, dan selimut hangat. Tidur pulas dengan perut gendut kekenyangan sehabis pesta pora.

Si miskin kedinginan, tak bisa tidur, dengan perut melilit karena belum makan beberapa hari. Beberapa ditemukan mati keesokan harinya. Karena tak tahan dengan dingin atau karena kelaparan.

Dan ia si pelacur cantik menampung mereka di rumah reyot peninggalan ibunya. Menyediakan makanan ala kadarnya dari uang yang didapatnya dari menjual tubuhnya. Seandainya dia mau menabung dan tak membuangnya dengan membantu para gelandangan dan peminta-minta itu mungkin ia telah mampu menebus kebebasannya dari rumah pelacuran tempat ia bekerja.

Pernah ia menolong seorang pembunuh melarikan diri, menyembunyikannya, dan memberinya bekal uang sekedarnya dan kuda yang sehat. Si pembunuh takkan pernah lupa akan jasanya. Berkali-kali dia menawarkan uang untuk menebusnya, tapi si pelacur menolaknya. Katanya,”Aku membantumu karena aku tahu kamu tidak bersalah, dan aku tidak mau menodai bantuanku dengan pamrih.”

Si pembunuh menyerah, tetapi mengawasinya dari jauh. Sekarang ia menjadi hartawan kaya di negeri tetangga. Ia membunuh bangsawan yang merampas harta orang-tuanya dan menculik adik perempuannya untuk dijadikan gundik bangsawan itu.

Pada suatu ketika, kota itu terserang wabah penyakit yang mengganas, setiap hari bertambah korban meninggal. Semua orang gelisah. Para tabib didatangkan, tapi tak satupun yang sanggup menangani wabah yang menghebat itu.

Kemudian para biarawan bersatu berkumpul dan menyatakan kepada dewan kota, bahwa kota mereka telah dikutuk. Ada pendosa yang menyebabkan kota itu dikutuk.

Mereka saling tuding, saling serang, saling tuduh siapa yang menyebabkan kutukan. Akhirnya mereka menemukan dua musuh bersama SANG PELACUR dan SANG PEMBUNUH.

Karena sang pembunuh sudah tak berada di kota itu, satu-satunya yang mungkin adalah si pelacur. Dengan brutal mereka menyerbu rumah pelacuran. Para pelacur dan pemilik pelacuran sudah melarikan diri. Apaka semuanya?

Tidak, ada yang tinggal… Dan ialah yang tercantik.

Ia diseret di tengah kota, ditampar, dipukul, ditendang, tubuhnya luka-luka. Tapi tetap…tak mampu menghilangkan kecantikannya.

Para wanita terhormat seolah-olah menemukan penyaluran atas kebencian kepadanya. Dan para pria, yang dulu merayu dan memujanya, tak satupun mau mendekati dan mengulurkan tangan membantunya.

Ia disiksa, ditelanjangi, dan disalib di tengah kota. Sebentar lagi upacara pembakaran hidup-hidup untuknya. Tak satupun kata-kata keluhan keluar dari mulutnya. Darah kering disekujur tubuhnya. Memar-memar pada kulitnya. Ia memandang kemata setiap penyiksanya, seolah mencatat apa yang mereka lakukan. Dan itu membuatnya semakin dibenci.

“Bunuh…bunuh…bunuh…”

Hiruk pikuk suara manusia menginginkannya mati. Seorang anak gelandangan kecil yang pernah ditolongnya, melihatnya, wanita itu menoleh kepadanya. Ia tersenyum, si gelandangan kecil itupun melelehkan air mata. Untuk pertama kalinya, si wanita tak lagi merasa sendiri di dunia.

Para gelandangan berjejer diluar, menyaksikan dewi penolong mereka disiksa. Para warga kota terhormat tak henti-hentinya menghinanya.

Para tetua memakai jubah kuning, tanda keputusan penting akan segera dilakukan. Formalitas, pembacaan dakwaan terhadap sang pendosa. Sanggahan yang tidak diperlukan. Terakhir pelaksanaan hukuman.

Sang ketua membuka kata,”Baiklah warga kotaku, sebelum kita laksanakan hukuman, siapa yang mempunyai tuntutan atau dakwaan terhadap terdakwa?”

“Apa kesalahannya?”

“Ia pendosa, ia pelacur…”

“Ia pantas dihukum, ia membuat kotor kota ini…”

Sang ketua melirik ke arah pelacur itu. “Apa sanggahanmu?”

Pelacur itu tersenyum mengejek, kemudian dengan tenang kalimat demi kalimat mengalir lancar dari mulutnya.

“Aku pendosa, iya.”
“Aku pelacur, benar.”
“Aku penjinah, tak akan kusangkal…”
“Pertanyaanku adalah, siapa di antara kalian semua yang tidak pernah melakukan dosa dalam satu hari?”
“Apakah kalian tidak pernah berpikir jelek terhadapku?”
“Apakah kalian menyangkal bahwa setiap hari bergunjing tentang tetanggamu?”
“Menginginkan kereta baru kolegamu?”
“Menginginkan gundiknya?”
“Menghina kami, kaum miskin?”
“Iri kepada temanmu, karena ia lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya?”
“Merampok uang kami?”
“Merampas kebebasan kami para budak?”
“Memfitnah?”
“Aku pelacur, iya…. Dari kecil aku tidak pernah diberi pilihan, tidak satupun dari kalian menolongku keluar dari sana, meskipun kalian mampu. Tidak, karena aku tidak pernah dianggap layak oleh kalian, karena aku anak seorang pelacur juga, aku anak haram. Aku tidak pernah diajari hidup dengan cara lain.”
“Kalian adalah orang-orang munafik yang sok berTuhan, menyumbang dalam jumlah besar ke biara dari duit yang kalian rampas dari keringat dan darah kami.”
“Aku penjinah iya, dan akan kubukakan rahasia ini kepada kalian semua, semua lelaki di kota ini pernah meniduriku. Jika aku penjinah, kalianpun penjinah. Aku menjual, kalian memberi. Aku menawarkan, kalian meminta.”
“Dan jangan kau kira para nyonya besar yang terhormat, aku tahu kenapa kalian membenciku. Kalian iri kepadaku…. Aku adalah ancaman bagi rumah tangga kalian… Dan jangan berpikir kami tak tahu, kalian berselingkuh dengan kolega suami kalian, atau dengan budak kalian, kalian dan aku sama-sama penjinah.”
“Jangan berpikir aku akan minta ampun kepada kalian, hanya Tuhan yang layak menentukan dosaku. Mungkin dengan mati, itu adalah akhir dari kesendirianku…”
“Lakukan hukumanmu, lanjutkan dakwaanmu yang masih tersimpan…”

Semua orang terdiam, tertunduk, malu, mereka ditelanjangi. Kehormatan mereka dihancurkan oleh belati di ujung lidah si pelacur cantik.

Tapi itu hanya sejenak, mereka makin murka, wajah-wajah itu berubah menjadi wajah iblis. Seorang istri bangsawan yang sangat membenci pelacur itu, karena suaminya jatuh cinta pada si pelacur, berteriak,”Hukum dia, jangan biarkan dia menghancurkan kehormatan kita…”

Pelacur itu mendongakkan kepala dan tertawa….

“Nyonya, kau seperti badut. Kehormatan apa yang kau punya? Siapa yang tidak tahu, kalau suamimu berkali-kali membujukku meninggalkan rumah pelacuran itu dan menjanjikan kedudukanmu kepadaku?”

“Sekarang aku tahu kenapa suamimu tak betah bersamamu… Kau perempuan nyinyir, berhati ular, pura-pura terhormat, tapi hatimu penuh racun. Kau membenci semua perempuan didekatmu, bahkan adik perempuanmu sendiripun kau cemburui.”

“Kau perempuan setan, sebentar lagi kau akan mati…,” teriak nyonya itu marah.

Dan semua berteriak, “Hukum… hukum…hukum…”

Sang ketua mengangkat tangannya. Meminta semua orang tenang. Katanya, “Sebelum dilaksanakan hukumanmu, apa permintaan terakhirmu?”

“Jika diantara kalian ada yang tidak pernah melanggar 10 perintah Tuhan seperti ini:

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Jangan membuat bagimu patung atau sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.

Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.

Hormatilah ayahmu dan ibumu.

Jangan membunuh.

Jangan berzinah.

Jangan mencuri.

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

Aku minta dialah yang pertama kali menyalakan apinya. Tapi jika tidak ada, aku minta hukuman bakar ganti dengan pancung.”

Pada akhirnya, si pelacur dihukum pancung. Karena tak ada satupun orang yang tidak pernah melanggar 10 perintah Tuhan.

Pelacur itu mati dengan senyum dibibirnya. Dia bahagia menemukan ada orang yang merasa kehilangannya. Si gelandangan kecil, dengan matanya yang tulus, menyayanginya, membuatnya tidak lagi sendirian di dunia. Kematian mengakhiri kepahitan hidupnya.

-selesai-
Saat hening, kadang aku berpikir, bahwa Malaikat dan Iblis itu ada didiri kita masing-masing. Kita semua punya dua sisi, Malaikat dan Iblis.

Puisi-puisi malam

Jakarta, 11 Mei 2009

Siang, mendung….

 

 

Dengarkan bisikan malam lelakiku…

Ada lagu yang mengalun lembut

Menyampaikan isyarat yang tak mampu kunyatakan padamu

Lihatlah kelamnya malam

Carilah makna dalam gulita tanpa bintang

Ia menyatakan kelamnya hari tanpamu

Dingin angin membekukan raga

Ingin hati merapat erat dalam peraduan nyaman pelukanmu

Dengan kejam sang iblis durjana melaknat

Dia merenggut paksa sukmaku atas ragaku

Aku melayang….

Tanpa mampu berpijak

Tanpa mampu bertumpu

Tanpa mampu berpegang

Dan kau biarkan aku lepas tanpa kendali….

Ah…………………………..

Masih saja kau biarkan dirimu mendusta nurani…

Kita seperti bulan dan matahari…

Saling butuh tanpa bisa menyentuh…

Jika satu binasa, yang lainpun tiada

Hanya saling memandang dari jauh

Takdir pun membunuh

Tangis pun meluruh……..

Aih, lelakiku…

Aku rindu pijar-pijar cahaya bintang dikedua matamu

Aku rindu bersih hati tanpa awan saat bersamamu…

Menunggu sekian abad

Ketika malam pekat tergantikan mentari di ufuk timur

Atau kala siang beranjak senja

Hanya untuk sekedar menyapa

Mungkin sempat bertukar isyarat

Senandung malam bercerita..

Tentang kata dan doa

Harapku tentangnya….

Tentangmu…

Jakarta, 8 Mei 2009

Siang hari, mendung…..

 

Pada mendung awan hitam

Kulihat cermin dirimu

Dan pada rinai hujan…

Kudengar tangismu

Dengarkan bisikan hati

Yang kutitipkan lewat angin senja ini

Aku sedang menikmati tanda

Yang terukir pada bebatuan

Lihatlah karang dilautan

Itulah aku yang tergerus oleh harapan tentangmu

Ada cerita di setiap celah bebatuan karang…

Ada ukiran kenangan pada setiap goresan di keningmu….

Semoga hujan hari ini

Menghapus setiap jejak luka yang kau tinggalkan…

hanya ingin…

Jakarta, 5 May 2009

Dini hari….

 

Entah, untuk berapa lama aku dalam posisi ini. Tidur meringkuk dalam gelap. Percuma kunyalakan lampu, toh aku tak mampu nikmati terangnya…

Gelap, hanya gelap disekelilingku… Aku membeku di sudut kamarku, diam, resah, dan pasrah… Hanya ditemani desahan nafas…

Malas kunyalakan TV atau bunyi-bunyian lain, segaduh apapun tetap tak mampu mengusir sepiku…

Tak kusangka ini akhirnya.

Aih, ngilu….

Kuraba dadaku, detaknya masih ada…

Tidak, aku tak perlu membakar gambarnya, percuma… Wajahnya ada dalam ingatanku….

Tak kupedulikan dering hand phone yang menjerit-jerit menulikan telinga. Ssst …. Diamlah, aku hanya ingin sendiri….

Aku hanya ingin sendiri, untuk mengenangnya…

Tidak, aku tak peduli kalimat-kalimat maaf yang tertulis rapi di emailku. Untuk apa? Apakah dengan begitu dia akan kembali lagi padaku?

Aku ingin menikmati perihku, tak peduli berapa banyak air mata yang tercurah untuk itu. Siapa tau, dengan begitu aku terbiasa dengannya. Dengan rasa sepi, perih, dan kosong…

Setiap kenangan yang terekam di ruang pikirku bersamanya, kuputar ulang, menikmatinya satu demi satu, seperti menonton film yang itu-itu saja. Sambil berharap pitanya rusak, supaya aku tak bisa lagi menontonnya.

Aih cinta, mengapa ini begitu perih…….

diprotes lagi…

May 1, 2009, Jakarta

 

Ga tau knp neh, dr kemarin foto2 gw yg di FB ama di FS diprotesin ama cewe2 yg ga gw kenal. Yang usut punya usut neh, istrinya tmn gw, kl ga ya pacarnya, kl ga ya adiknya.

Pertanyaannya gini, knp sih ada cewe’ masang2 foto sexy di FB/FS?

Ih , foto-foto begituan knp dipajang di FB/FS?

Knp sih, elo nge-add cewe pakai baju sexy? Pas ditanya siapa cthnya, nm gw disebut.

Gludak……….

Ya, gimana ya… Gw nyaman dgn penampilan gw kaya’ gitu trus apakah gw salah? Kan gw ga gangguin dia…

Lagi pula, itu kan cm foto. Knp sih byk orang punya pikiran picik, dan berpandangan sempit? Yang ngelihat semuanya cuma dr penampilan aja?

Salah gw gitu kalau gw sexy? hihihihi….

Nasib nasib nasib…….

Yah, mbak/bu/dik/nek/tante… kan saya juga ga ngelarang orang2 mau pakai baju sexy, atau pakai baju norak, atau pakai jilbab, atau pakai baju seadanya…

Biarin aja kali asal ga ganggu gw mah, gw ga usilan kok…. Kl emang nyaman dgn baju itu, knp hrs gw protes coba? Kl takut saingan gr2 dianya pakai baju sexy, ya perbaiki aja penampilan diri sendiri biar lbh menarik.

Kl gw sih, ga peduli org lain mau pakai baju apa. Seandainya ada yg makai baju2 lbh sexy dr gw, gw yakin bener kok kl gw punya kelebihan lain selain baju sexy gw…

Tips neh ya mbak/tante/bu/dik/nek/jeng….., cewe’ yg menarik itu yang sadar akan kelebihan dan kekurangannya, dan jgn sampai syirik ama orang lain…. Itu malah ga menarik buat cowo’

Cewe’ yg PD jauh lbh menarik drpd yg minderan, tul ga mas/pak/dik/kek/om?

udah deh, cape’ gw…..

Segi Tiga

Jakarta, 7 Februari 2009

Dini hari, tak bisa pejamkan mata

Kupandangi wajah perempuan di depanku. Tak bosan-bosan kuikuti dengan pandang mataku bibir indahnya yang bergerak-gerak. Wajahnya pucat menahan tekanan batin, tapi aneh, ia jelita dimataku.

Jarinya menjepit dji sam soe, kebiasaan buruknya saat hatinya gelisah, biasanya ia menghisap a mild menthol. Asap kelabu tebal berhembus pelan di sela bibirnya. Sexy…..

Ia mengerjapkan matanya, menahan setitik air bening yang menggantung diujungnya. Bulu matanya yang lentik terangkat, matanya memandang kosong keluar jendela, menatapi mobil lalu lalang sementara pikirannya mengembara entah kemana.

Aku berdehem, untuk memecah lamunannya. Ia menoleh, rambutnya yang ikal tebal dan panjang terurai. Anak rambut berjuntai di dahinya, aih…. ia sungguh jelita, bahkan dalam kepucatannya.

Ia mencoba tersenyum, katanya, “Maaf, tak seharusnya aku diam…”

“Kau ingin bercerita tentang apa yang kau lamunkan itu bukan? Karena itu kau mengundangku minum,” jawabku sambil tersenyum mencoba mencairkan rasa bersalahnya.

Ia mengangguk perlahan. Kemudian dari bibirnya mengalir cerita panjang tentang dua lelaki dalam hidupnya.

“Dia, pertama kali aku melihatnya, ada sesuatu yang menyentuh disini,” katanya sambil menunjuk dadanya.

“Tak seperti lelaki-lelaki lain yang pernah kutemui sebelumnya. Senyumnya yang malu-malu, cara dia memandangku, mata lembut di balik kacamata minusnya, ih……… Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik mendekat.”

“Aku bosan pandangan penuh birahi dan kekaguman, aku benci kepada pria yang melihatku hanya karena fisikku saja, aku muak kata-kata penuh rayuan, tapi dia beda….”

“Cara dia memandangku lebih dari sejuta kata pujian dan rayuan, bukan mata penuh nafsu birahi, tapi aku merasa menjadi makhluk terindah jika dia menatapku seperti itu….”

“Dengannya, aku menemukan kelegaan. Aku nyaman disisinya. Ada beberapa sifatnya yang aku tidak suka, tapi itu tertutup dengan rasa nyaman itu. Dan ciumannya, aku merasakan sesuatu yang menghanyutkan dalam pelukan dan ciumannya….”

Perempuan itu berhenti sebentar, memompa oxygen dalam paru-parunya dan menghembuskannya perlahan.

“Apakah dia istimewa bagimu?”

“Tergantung ke arah mana pertanyaanmu?”

“Semuanya, fisik, kepribadian, pendeknya bibit, bebet, bobot.”

“Hm, aku tidak peduli dengan bibit, bebet, bobot. Fisiknya? Tidak terlalu istimewa, apalagi kau bandingkan dengan mantan pacarku yang indo swedia itu. Tidak, dia berwajah menarik, berkulit kuning, dengan mata yang berbinar pintar, jangkung dan kurus. Wajahnya hangat menyenangkan.”

“Dia tenang, pemalu, pasif dan menentramkan hati.”

Matanya menerawang seolah-olah wajah itu ada di depan matanya. Ada rindu disana…..

“Dan yang satunya?” Tanayaku kepadanya.

Mulut itu membentuk senyum geli, membayangkan lelaki kedua. Wajahnya membayangkan kegembiraan seorang bocah.

“Dia? Dia istimewa, istimewa karena dia congkak, keras kepala, cerdas, dan sukar ditaklukkan!”

“Kau tertantang untuk menaklukkannya?” Tanyaku sambil memandang matanya, lanjutku, “Karena kau sama dengannya, congkak, keras kepala, cerdas, dan sukar ditaklukkan?”

Ia tertawa, “Pada awalnya, iya!”

“Selanjutnya?”

“Mala petaka buatnya, buatku, dan buat orang-orang yang menyayangi kami.”

Aku mengkerutkan alisku tanda tak mengerti.

Ia hanya tersenyum getir sebelum melanjutkan ceritanya. “Kami dipertemukan oleh kebetulan. Ada banyak kebetulan antara aku dengannya. Kebetulan aku berzodiak sama dengannya, kebetulan dia teman satu angkatan dan satu SMU dengan kakak lelakiku, kebetulan aku banyak mengenal teman-teman kuliahnya dulu, kebetulan kami sangat mirip di sifat. Aku berkaca padanya, dan aku melihat wujud lelakiku ada pada dirinya.”

“Kami sama-sama bermulut tajam dalam mencela orang. Kami sama-sama tidak mau mengalah dan keras kepala.”

“Dia pendengar yang baik. Dia tempat curhat yang baik. Dia tahu bagaimana menenangkan kegelisahanku, tapi dia pun mampu membuat amarahku meledak setiap waktu. Tapi dia mampu memadamkan kobaran marahku.”

“Kami mampu menempatkan diri kami sebagai partner sejajar, bahkan dalam hal mencela….”

“Dia agresif dan proaktif. Aku senang bersamanya, ada kenyamanan yang beda saat dengannya. Aku mampu menjadi diriku sendiri, tanpa takut dipandang buruk olehnya, karena dia dan aku sama-sama bajingan.”

“Jika kau bandingkan, lelaki pertama dan kedua, secara fisik mana yang lebih kamu suka?” Tanyaku.

“Dua-duanya bukan tipe fisikku,” jawabnya.

“Aku tidak mengerti…,” selaku.

“Aih teman, kau tahu aku tak pernah melihat lelaki dari fisiknya, tapi lebih dari potensi besar dalam otak dan pribadinya.”

“Bagaimana fisiknya?”

“Hm, pendek, hanya lebih tinggi dua centi dariku, berkulit putih, matanya cerdas, mukanya alim menipu, wajahnya menunjukkan dia punya rasa percaya diri yang besar, lelaki yang yakin akan kemampuannya. Kecerdasannya menarik lawan jenisnya, keangkuhannya menantang untuk ditaklukkan, dan mulut tajamnya membuat penasaran.”

“Becumbu dengannya adalah benturan listrik, kami saling meledakkan. Jika pelukan lelaki pertamaku menghanyutkan, pelukan lelaki keduaku adalah benteng kokoh tempat berlindung. Di depannya aku tak malu menangis, karena dia tahu, aku hanya butuh mengeluarkan air mata untuk melegakan hati.”

Perempuan itu berhenti bercerita. Matanya berkaca-kaca kini. Seyum getir itu menghias lagi di bibir indanhya.

Aih, alangkah jelitanya ia dalam rapuhnya, pikirku sambil tak bosan memandangi wajah didepanku.

“Dan kini, kau dihadapkan pada pilihan?” Tebakku.

Ia menggeleng, “Bukan aku yang memilih, tapi kubiarkan lelakiku menentukan pilihannya. Mereka punya aku dan seorang perempuan lain. Mereka pun memilih.”

Aku terbelalak, “Rumit juga, aku jadi ingin tahu kemana hatimu lebih condong?”

“Terus terang, aku pun tidak tahu. Dan baru kali ini kurasakan hal ini. Hati yang terbagi berimbang, tak mampu untuk menentukkan pilihan. Apa yang dipunyai yang satu tak dipunyai yang lain, mereka dua makhluk yang saling melengkapi. Mereka membuatku lengkap. Aku menemukan kenyamanan yang beda, tapi aku menyukai keduanya.”

“Tapi tak mungkin kau miliki keduanya bukan?’

“Aku ingin! Sumpah! Aku perih membayangkan aku harus kehilangan salah satu dari mereka, aku takkan pernah bisa membuat pilihan jika aku diharuskan untuk memilih, karenanya kubiarkan mereka memilih….”

“Lanjutkan…..,” desakku.

“Jika kau dihadapkan kondisi sepertiku. Dan jika salah satu lelakimu itu telah mengorbankan hidup dan ketenangannya untuk memilikimu utuh dan yang satu tak pernah mampu mengambil keputusan untukmu, siapa yang akan kaupilih?”

“Tentu saja lelaki yang sudah memilihku. Karena dia mau berjuang untuk bisa hidup bersamaku. Rasanya tak adil, jika pilihan berat untuknya itu dibalas dengan meninggalkannya,” jawabku.

“Iya, itu juga yang aku lakukan. Dan salahkah aku jika ada rasa tak rela untuk melepaskan yang satunya?”

“Tidak, itu manusiawi. Meski pada kenyataannya kamu akan tetap kehilangan dia.”

“Iya, aku ingin membuat mereka berdua bahagia. Aku tak sanggup membuat salah satunya terluka, karena itu akan melukai diriku sendiri….”

“Hei please, tak percaya ini keluar dari mulut seorang perempuan kejam berati dingin sepertimu,” sambungku sambil tergelak.

“Ah kau kan tahu, aku tidak setega itu! Justru jika aku tidak mau, akan kukatakan dari awal, bukan mempermainkan perasaan seseorang kemudian meninggalkannya,” sambarnya membela diri.

“Tapi bagaimana mungkin mereka bisa tergila-gila jika kau tidak mempermainkan perasaan mereka dulu?”

“Entah,” jawabnya sambil mengangkat bahu tidak peduli.

“Terus, apa keputusanmu?” Tanyaku lagi.

“Aku tak mau memutuskan apa pun. Aku masih ingin menunggu kemana arah angin bertiup. Dan sungguh aku mulai lelah menaklukkan waktu. Yang jelas aku takkan memaafkan diriku sendiri jika aku mengacaukan hidup mereka….”

“Jika nanti waktunya aku harus menutup lembaran ini, ada satu yang akan terus kukenang, bahwa waktu bersamanya adalah waktu terindah yang kulewati dalam hidup. Mereka ada mengisi ruang-ruang kenanganku….”

“Hidupmu tak pernah mudah bukan?”

“Dan kau adalah sahabatku yang masih tak bosan mendengarkannya.”

“Aku mengagumi semangatmu melaluinya, dan aku tahu kamu selalu bisa melewatinya,” aku tak menyembunyikan lagi kekagumanku kepadanya.

Dia tersenyum, “Buka pakaianmu, siapa yang mengijinkanmu memakai bajumu jika didekatku?”

Dan aku hanyut dibawanya ke puncak ketujuh…..

tak ingin berhenti

jakarta, 6 februari 2009

malam, mendung…..

aku tak ingin berhenti

tidak nanti…

tidak esok…

tidak lusa…

aku tak ingin berhenti

merasai hangat hatimu

merasai lembut belaimu

merasai sejuk tatapmu

sungguh

aku tak ingin berhenti….

Nilai uang 250rb Rupiah

Jakarta, 26 Jan 2009

Dikamar, sendirian….

Nilainya secara nominal, apalagi tinggal di Jakarta, tak seberapalah. Buat dugem, mana cukup? Ongkos taxi pulang-pergi ke mall.

Dengan 250rb, aku bahagia. Ternyata, duit tak seberapa itu dihargai lebih oleh seseorang yang manis budi seperti tukang pijit langgananku.

Sebut aja namanya mak urut. Usianya sudah lebih dari 50 thn. Anaknya yang terakhir menderita penyakit aneh. Ada kelainan pada otaknya, sehingga kadang kalau pas sakitnya kambuh dia kejang-kejang seperti orang ephilepsi.

Sebulan sekali harus kontrol dokter, biaya setiap bulan untuk pengobatan anaknya kurang lebih 600rb (dokter plus obat). Anaknya yang lain juga pas-pasan jd tdk bisa bantuin emaknya.  Sehari-hari kerjaan mak urut, ya mijit. Penghasilan gak tentu.

Nah, dua bulan lalu aku manggil mak urut buat pijit. Trus emak minta tolong padaku pinjam uang 250rb rupiah, krn harus bawa anaknya ke dokter, sedangkan penghasilannya belum cukup, kurang 250rb rupiah. Mak urut juga minta, jangan minta balikin bentuk duit, beliau akan bayar dengan tenaga. Karena tiap aku mijit aku ngaish 50rb, jadi dia hutang 5 x pijit padaku.

Sebulan kemudian, aku telepon ke anaknya, minta mak urut datang. Tapi dia tidak bisa. Seminngu kemudian, aku coba hubungi dia lagi. Dia gak bisa lagi.

Akhirnya aku jadi BT, dan punya pikiran buruk terhadapnya (maaf mak, pikiran saya jelek ke emak). Akhirnya aku diemin, aku nunggu itikad baiknya. Dua hari kemudian, si emak telepon dr hp anaknya, bilang kalau emak hbs sakit, belum boleh terlalu capek. Nanti kalau emak sdh sehat, dia mau dipanggil jam berapa saja.

Tadi malam, sepulang aku dari Kuala Lumpur, badan pegel-pegel. Iseng-iseng kuhubungi mak urut. Akhirnya beliau bisa datang.

Wah nikmatnya bukan kepalang. Cape dan pegal semua hilang. Rasanya fresh banget. Sambil pijit aku tanya keadaan anaknya. Dan tentu saja sakit apa si emak ini. Si emak cerita semua, gak nyangka ternyata mak sakit parah, sempat opname, aku merasa bersalah telah berprasangka buruk kepadanya.

Setelah selesai mijit mak langsung pamit pulang, dan mengundangku singgah kpn2 kerumahnya biar tau keadaannya. Aku bilang terima kasih, nanti kalau ada waktu.

Saat aku membayar jasanya, si emak menolak. “Neng, emak kan masih hutang, sekarang sudah sekali, jd emak msh hutang 4 kali.”

Aku trenyuh. Aku memaksanya menerima upahnya. Aku bilang, “Emak, yang kemarin gak usah dikembaliin, anggap saja saya nyumbang emak di opname.”

Si emak langsung nangis terharu. Dia mengucapkan terima kasih dan langsung memanjatkan doa.

Akupun sangat terharu…..

Tak sangka uang tak seberapa itu. Hanya Rp 250.000,-, aku bisa membeli kebahagiaan! Aku bahagia aku bisa membantu sesamaku. Aku bahagia karena aku berikan kepada orang yang tepat. Aku bahagia, karena dia membuka mataku, bahwa orang kecil seperti dia, lebih mengenal budi drpd kita yang lebih drpdnya. Nilai 250rb itu sama dengan kebahagiaanku saat itu, dan indahnya benar-benar tak ternilai!

terima kasih Tuhan

Kuala Lumpur, 24 January 2009

Untuk para sahabat dalam hidupku, yang menyertai tawa dan airmataku, untuk setia-kawan dan pengkhianatan, untuk maaf dan amarah, sungguh di negeri orang aku merindu kalian…

Angkat gelasmu tinggi-tinggi teman

Untuk masa muda yang ceria

Untuk kebodohan-kebodohan kita

Untuk tawa di setiap pesta pora

Untuk airmata kita

Untuk keberhasilan kita

Untuk kegagalan kita

Untuk masa lalu nan ceria

Untuk masa depan yang tak tau apa….

Angkat gelasmu tinggi-tinggi…

Untuk semua masa kita pernah lalui bersama

Sendau, gurau, tawa ceria, dan pesta pora

Pahit, getir, asamnya dunia…

Tak sangka…

Sejauh aku melangkah

Ketika kutengok belakang

Aku temukan senyummu dimana-mana

Sungguh, aku rindu saat kita bersama…

Older Posts »